Oleh: Bustanul | Sebuah Ikhtiar untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Ada lelah yang tidak berasal dari beratnya ujian.Tetapi dari lamanya menunggu pertolongan.Sudah berdoa.Sudah berusaha.Sudah bersabar.Namun masalah itu masih tetap ada.Hari berganti hari.Minggu berganti minggu.Bahkan mungkin tahun berganti tahun.Dan di sudut hati yang paling sunyi, muncul pertanyaan yang jarang kita ucapkan kepada siapa pun:"Jika Allah menyayangiku, mengapa Dia belum mengangkat beban ini?"Pertanyaan seperti ini bukan tanda lemahnya iman.Ia adalah tanda bahwa hati sedang berjuang.Sebagaimana seorang musafir yang lelah menempuh perjalanan panjang dan mulai bertanya kapan ia akan sampai.
Ketika Jalan Keluar Belum Terlihat
Mungkin keadaan serupa pernah terjadi pada Nabi Musa.Di belakang beliau ada Fir'aun dan pasukan yang siap mengejar.Di depan terbentang Laut Merah.Tidak ada jalan ke kanan.Tidak ada jalan ke kiri.Secara logika manusia, semuanya tampak berakhir.Orang-orang yang bersama Musa mulai kehilangan harapan.Mereka berkata:"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul."Namun Nabi Musa menjawab dengan keyakinan yang luar biasa:"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."
(QS. Asy-Syu'ara: 62)Perhatikanlah.Saat kalimat itu diucapkan, laut belum terbelah.Mukjizat belum terjadi.Jalan keluar belum terlihat.Tetapi keyakinan sudah hadir lebih dahulu.Karena orang yang mengenal Allah tidak menggantungkan harapannya pada apa yang terlihat oleh mata.Ia menggantungkan harapannya kepada Dzat yang mengatur segala sesuatu.
Mengapa Allah Menunggu?
Yang sering kita perhatikan adalah terbelahnya laut.Padahal ada pelajaran yang lebih dalam dari itu.Allah mampu membelah laut sejak awal.Bahkan sebelum Musa berada dalam keadaan terdesak.Namun Allah memilih waktu yang lain.Mengapa?Karena Allah ingin menunjukkan bahwa pertolongan-Nya datang pada saat yang paling tepat.Bukan menurut perhitungan manusia.Tetapi menurut hikmah-Nya.Abu Thalib Al-Makki memberikan renungan yang indah:"Ketika Allah menahan sesuatu darimu, perhatikanlah apa yang sedang Dia berikan kepada hatimu."Sering kali kita hanya fokus pada apa yang belum datang.Padahal Allah sedang menghadiahkan sesuatu yang jauh lebih besar.Kesabaran.Keteguhan.Kematangan.Dan kedekatan kepada-Nya.
Allah Sedang Membentukmu
Kita sering berdoa:"Ya Allah, hilangkan masalah ini sekarang."Tetapi mungkin Allah sedang mengajarkan:"Bertahanlah sedikit lagi. Ada sesuatu yang sedang Aku tumbuhkan di dalam dirimu."Sebab tidak semua kebaikan datang dalam bentuk kenyamanan.Ada kebaikan yang datang dalam bentuk proses.Ada pelajaran yang hanya bisa dipahami setelah air mata jatuh.Ada kekuatan yang hanya lahir setelah seseorang melewati masa-masa sulit.Kadang kita meminta perubahan keadaan.Sementara Allah sedang mempersiapkan perubahan diri
.
Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Allah berfirman:"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah: 5-6)Allah tidak mengatakan "setelah kesulitan".Tetapi "bersama kesulitan".Artinya, ketika ujian datang, rahmat Allah pun sedang bekerja.Meskipun belum terlihat.Meski belum terasa.Meski belum kita pahami.
Jangan Menyimpulkan Allah Diam
Mungkin hari ini laut di depanmu belum terbelah.Mungkin masalahmu masih sama.Mungkin doamu terasa belum terjawab.Tetapi jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah diam.Karena dalam kisah Musa, pertolongan datang tepat ketika manusia mengira semuanya sudah terlambat.Mungkin Allah belum mengubah keadaanmu.Karena Dia sedang mengubah dirimu.Dan suatu hari nanti, ketika engkau melihat perjalanan ini dari kejauhan, engkau akan mengerti:Allah tidak pernah terlambat.Tidak sekali pun.
"Yang paling sering membuat kita putus asa bukan karena Allah tidak menolong. Tetapi karena kita mengira pertolongan Allah harus datang sesuai cara yang kita inginkan."
Wa Allahu a'lam bish-shawab.
Sumber Renungan
- QS. Asy-Syu'ara: 61–62
- QS. Al-Insyirah: 5–6
- Hikmah Abu Thalib Al-Makki
- Tadabbur kisah Nabi Musa dan Laut Merah
@bustanul - Merawat kesadaran sebelum waktu selesai

